Laman

Sabtu, 01 Januari 2011

KATEKIN SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL

PANGAN FUNGSIONAL DAN FITOKIMIA PANGAN
KATEKIN SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL

TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2010
SUMMARY

Catechin is called catechoat acid with the chemical formula C15H14O6, colorless, and in a state of pure little insoluble in cold water but very soluble in hot water, soluble in alcohol and ethyl acetate, almost insoluble in koloroform, benzene and ether. In addition, catechins resembles fine needle-shaped crystals, soluble in boiling water and cold alcohol.  Catekin in acetic acid solution will form a clear solution, but if it reacted with iron chloride (FeCl3) will form a green colored liquid. Catechin is a complex phenolic compounds (polyphenols). Simple form of constituent catechins is katekol with aromatic structure. Catechin has two carbon atoms are symmetrical which makes it has 4 isomers, namely (+) catechin, (-) catechin, (+) epikatekin and (-) epikatekin. (+) Catechin and (-) epikatekin most numerous in nature. Catechin and epikatekin has three types of derivatives, namely catechin gallate, galokatekin, galokatekin gallate, and epigallocatechin gallate epikatekin error. Catechins exist in gambier and leaf tea polyphenol compound is a functional group, which is one antioxidant compound that serves to protect the body from free radical attack. Antioxidants work by pressing the cell damage caused by free radical oxidation process. Source of catechins is from gambier and tea. Gambir has catechin content of about 20-40% of the extracted sample. Whereas, green tea have catechin more than from black tea.









I.       PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Usia panjang menjadi harapan setiap orang. Meraih usia panjang bukan hal yang gratis, semua perlu upaya. Mereka yang hidup di kota-kota besar dan setiap hari dikepung polusi sumber radikal bebas, sangat dianjurkan untuk banyak mengonsumsi pangan fungsional sumber antioksidan agar sel-sel tubuh tidak mudah karatan. Pangan fungsional menurut definisinya adalah pangan yang bermanfaat bagi kesehatan di luar zat gizi yang umumnya ada dalam setiap makanan (Styshout, 2010).
Produk pangan fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan mulai banyak diminati oleh konsumen karena kesadaran akan pentingnya hidup sehat semakin meningkat. Salah satu jenis pangan kesehatan yang banyak dikembangkan dan diteliti adalah pangan kesehatan yang mengandung antioksidan. Mengingat peranannya yang mampu mencegah timbulnya berbagai jenis penyakit kronis maka perhatian banyak ditujukan pada upaya pancarian zat-zat antioksidan yang potensial terutama yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Oleh karena itu, penelitian untuk menggali lebih dalam aplikasi penggunaan teh sebagai produk minuman fungsional yang sangat bermanfaat bagi kesehatan perlu dilakukan (Puspita, 2003).
Pangan fungsional secara umum merupakan pangan yang bersifat secara alami atau telah melalui proses tertentu dan mengandung satu atau lebih senyawa yang berdasarkan kajian-kajian ilmiah dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu yang bermanfaat bagi kesehatan. Kelompok atau jenis ragam dari senyawa yang dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu di dalam pangan fungsional adalah senyawa-senyawa alami di luar zat gizi dasar (karbohidrat, protein, dan lemak) yang terkandung dalam pangan yang bersangkutan, yaitu: (1) serat makanan (dietary fiber), (2) oligosakarida, (3) gula alkohol (polyol), (4) asam lemak tidak jenuh jamak (polyunsaturated fatty acids = PUFA), (5) peptida dan protein tertentu, (6) glikosida dan isoprenoid, (7) polifenol dan isoflavon, (8) kolin dan lesitin, (9) bakteri asam laktat, (10) phytosterol, dan (11) vitamin dan mineral tertentu.
Pangan fungsional dibedakan dari suplemen makanan atau obat berdasarkan penampakan dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Bila fungsi obat terhadap penyakit bersifat kuratif, maka pangan fungsional lebih bersifat pencegahan terhadap penyakit. Berbagai jenis pangan fungsional telah beredar di pasaran, mulai dari produk susu probiotik tradisional seperti yoghurt, kefir dan coumiss sampai produk susu rendah lemak siap dikonsumsi yang mengandung serat larut. Juga produk yang mengandung ekstrak serat yang bersifat larut yang berfungsi menurunkan kolesterol dan mencegah obesitas. Untuk minuman, telah tersedia berbagai minuman yang berkhasiat menyehatkan tubuh yang mengandung komponen aktif rempah-rempah seperti kunyit asam, minuman sari jahe, sari temu lawak, beras kencur, serbat, dan bandrek.
Tanaman rempah dan obat serta jenis tanaman lainnya sudah lama dikenal mengandung komponen senyawa fitokimia yang berperan penting untuk pencegahan dan pengobatan berbagai penyakit. Salah satu contoh kandungan senyawa fungsional pada tanaman adalah katekin pada gambir dan daun teh. Pada ekstrak gambir mengandung beberapa komponen yaitu katekin 7% sampai dengan 33%, sedangkan pada daun teh kadar katekin bisa mencapai 30% dari berat kering.
Katekin yang ada pada gambir dan daun teh merupakan senyawa fungsional golongan polifenol, yang merupakan salah satu senyawa antioksidan yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari serangan radikal bebas. Antioksidan bekerja dengan cara menekan kerusakan sel yang terjadi akibat proses oksidasi radikal bebas.

B.       Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah agar kita mengetahui tentang pangan fungsional yang bersumber dari katekin serta manfaat bagi tubuh.



I.         TINJAUAN PUSTAKA
A.          Senyawa Fungsional dalam Pangan Fungsional
Pangan fungsional merupakan pangan alami (sebagai contoh, buah-buahan dan sayur-sayuran) atau pangan olahan yang mengandung komponen bioaktif sehingga dapat memberikan dampak positif pada fungsi metabolisme manusia.
Dalam dokumen konsensus “Scientific Concepts of Functional Foods in Europe” yang dikeluarkan oleh European Commission Concerted Action on Functional Food Science in Europe (FUFOSE) mendefinisikan pangan dapat dikatakan memiliki sifat fungsional jika terbukti dapat memberikan satu atau lebih manfaat terhadap target fungsi tubuh (selain fungsi gizi normalnya) dengan cara yang relevan dapat memperbaiki status kesehatan dan kebugaran serta menurunkan risiko penyakit. Pangan, secara umum dapat dikatakan memiliki tiga sifat penting:
1.        Fungsi utama : sebagai asupan zat gizi yang sangat esensial untuk keberlangsungan hidup manusia.
2.        Fungsi kedua : sebagai sensori atau pemuasan sensori seperti rasa yang enak, rasa, dan tekstur yang baik.
3.        Fungsi ketiga :secara fisiologis menjadi regulasi bioritme, sistem saraf, sistem imunitas, dan pertahanan tubuh.
Pangan fungsional dapat digolongkan ke dalam pangan yang termasuk pada fungsi ketiga. Contoh dari pangan fungsional dapat berupa pangan konvensional yang difortifikasi, diperkaya, disuplementasi, atau ditambahkan nilai manfaatnya.
Substansi yang terdapat di dalamnya dapat berupa zat gizi esensial untuk memelihara fungsi normal tubuh dan pertumbuhan, serta komponen bioaktif yang dapat memberikan hasil postif pada kesehatan maupun efek fisiologis yang dikehendaki. Pangan fungsional dapat diklasifikasikan dengan menggunakan berbagai prinsip sesuai dengan badan atau aturan yang berlaku di negara yang bersangkutan. Berikut merupakan beberapa pengklasifikasian pangan fungsional menurut badan atau aturan yang berlaku di negara yang bersangkutan serta justifikasi ilmiah yang menyertainya.
Berdasarkan Beberapa Prinsip adalah:
1.        Berdasarkan golongan dari pangan tersebut (produk susu dan turunannya, minuman, produk sereal, produk kembang gula, minyak, dan lemak).
2.        Berdasarkan penyakit yang akan dihindari atau dicegah (diabetes, osteoporosis, kanker kolon).
3.        Berdasarkan efek fisiologis (imunologi, ketercernaan, aktivitas anti-tumor).
4.        Berdasarkan kategori komponen bioaktif (mineral, antioksidan, lipid, probiotik).
5.        Berdasarkan sifat organoleptik dan fisikokimia (warna, kelarutan, tekstur).
6.        Berdasarkan proses produksi yang digunakan (kromatografi, enkapsulasi, pembekuan) (Anonim, 2010)
Pangan fungsional adalah benar-benar berwujud pangan yang dapat dikonsumsi setiap saat oleh yang memerlukannya, jadi bukan berbentuk kapsul atau tablet. Kalau diperhatikan berdasarkan fungsinya, maka pangan fungsional dapat berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah penyakit, memulihkan kondisi tubuh, dan menghambat proses penuaan.
Sebagai contoh, produk-produk pangan kini banyak yang mengklaim kaya serat atau diperkaya dengan serat untuk menjaga kesehatan jantung. Pangan berbahan baku sereal, agar-agar, dan sayuran-buah secara alami memang mengandung serat tinggi. Pernah serat pangan ini dianggap sebagai ”the forgotten nutrient” karena fungsinya ketika itu belum jelas. Serat pangan terdiri dari dua komponen utama yaitu serat larut dan tak larut. Serat larut tidak dapat dicerna oleh enzim pencernaan manusia tetapi larut dalam air, sedangkan serat tak larut tidak dapat dicerna dan juga tidak dapat larut dalam air. Meski tidak dapat dicerna, namun serat mempunyai fungsi metabolisme zat gizi yang penting di dalam tubuh. Sebagai salah satu komponen bahan pangan, serat ternyata mempunyai peranan penting dalam kesehatan. Hal ini telah dibuktikan dari berbagai penelitian epidemiologis maupun klinis. Pengembangan pangan fungsional dengan tujuan untuk memperbaiki fungsi-fungsi fisiologis, agar dapat melindungi tubuh dari penyakit, khususnya penyakit-penyakit degeneratif (Mujahidin, 2009).


J.        Katekin
Katekin adalah senyawa polifenol alami, merupakan metabolit sekunder dan termasuk dalam penyusun golongan tanin.  Tanin adalah senyawa fenolik kompleks yang memiliki berta molekul 500 sampai 3000.  Tanin dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan tipe struktur dan aktivitasnya terhadap senyawa hidrolitik terutama asam, yaitu tanin terkondensasi (condensed tannin) dan tanin terhidrolisis (hydrolyzable tannin) (Naczk et al., 1994 da Akiyama et al., 2001).
Katekin merupakan senyawa fungsional dominan yang terdapat dalam gambir.  Ekstrak gambir juga mengandung asam catechu tanat  dan quercetine (pewarna kuning) (Tarwiyah, 2001). Gambir juga mengandung sedikit quercetine yaitu bahan pewarna yang memiliki warna kuning. Komponen utama gambir adalah katekin (asam katekin atau asam catechu) dan asam katekin tannat (catechin anhydrid).  Katekin bila mengalami pemanasan cukup lama atau pemanasan dengan larutan bersifat basa dengan mudah akan menjadi katekin tannat karena kondensasi sendiri dan menjadi mudah larut dalam air dingin atau air panas (Hayani, 2003).
Bentuk sederhana penyusun catechin adalah catechol dengan struktur aromatis.
 






Gambar 1. Struktur katekin (Lucida et al., 2007)
            Katekin biasanya disebut juga asam catechoat dengan rumus kimia C15H14O6, tidak berwarna, dan dalam keadaan murni sedikit tidak larut dalam air dingin tetapi sangat larut dalm air panas, larut  dalam alkohol dan etil asetat, hampir tidak larut dalam koloroform, benzen dan eter. Selain itu, Katekin berbentuk kristal halus menyerupai jarum, larut dalam air mendidih dan alcohol dingin. Catekin dalam larutan asam asetat akan membentuk larutan yang bening, tetapi jika direaksikan dengan besi klorida (FeCl3) akan membentuk cairan berwarna hijau. Katekin merupakan senyawa fenolik yang komplek (polifenol).
Katekin memiliki dua atom karbon yang simetris yang membuatnya memiliki 4 isomer, yaitu (+) katekin, (-) katekin, (+) epikatekin dan (-) epikatekin. (+) katekin dan (-) epikatekin paling banyak terdapat di alam (Arunachalam, 2003).  Katekin dan epikatekin memiliki tiga jenis turunannya, yaitu katekin galat, galokatekin, galokatekin galat, epikatekin galat dan epigalokatekin galat.  Jenis-jenis katekin disusun berdasarkan pada kerangka dasar struktur senyawa katekin dan epimernya.
           
(-)-Catechin                      (-)-Epikatekin                          (+) Epikatekin

Katekin bersifat sebagai antimikroba, memperkuat pembuluh darah, melancarkan air seni dan menghambat pertumbuhan sel kanker (Wahluyo, 2004). Peran katekin sebagai antimikrobia telah banyak dilakukan penelitian.  Yukiko (2005) melaporkan bahwa ekstrak katekin dapat mengurangi spora Clostridium botulinum dan spora Clostridium butyricum, tetapi tidak memberikan efek terhadap spora Bacillus cereus.  Sifat antibakteri katekin juga dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans, Staphylococcus aureus dan Bacillus subtilis, akan tetapi sifat antibakteri katekin tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan Eschericia coli, Salmonella typhimurium FNCC 0139, dan Shigella flexneri (Pambayun et al., 2007).

K.      Katekin dalam Gambir
Gambir adalah ekstrak kering dari ranting dan daun tanaman gambir (Uncaria Gambir Roxb.).  Indonesia dikenal sebagai pemasok utama gambir dunia (80%) yang sebagian besar berasal dari daerah Sumatera Barat (Djanun, 1998). Senyawa yang banyak terdapat dalam gambir  adalah katekin.
Gambir umumnya digunakan sebagai pelengkap sirih yang dikunyah dan dipercaya dapat menguatkan gigi.  Granul effervescent  dengan penambahan bakteri probiotik merupakan salah satu cara diversifikasi dan pengembangan produk fungsional gambir yang sangat potensial. Effervescent merupakan serbuk berbuih yang mengandung garam effervescent atau bahan-bahan lain yang mampu melepaskan gas ketika bercampur dengan air (Ansar et al., 2006). Minuman serbuk instan diartikan sebagai produk pangan berbentuk butiran-butiran (serbuk/tepung) yang dalam penggunaannya mudah melarut dalam air dingin atau air panas.
Tanaman gambir dapat dipanen sebanyak 24 kali setiap tahunnya, tergantung kepada pertumbuhan tanaman.  Adapun yang dipanen adalah daun beserta ranting tanaman.  Jaringan tanaman tersebut banyak mengandung katekin.  Tanaman gambir dapat dipanen terus menerus selama 15 tahun semenjak penanaman (Kemal, 2001).  Kandungan katekin dalam gambir adalah salah satu komponen mutu gambir.  Untuk gambir Mutu I, II dan III kandungan katekin minimal secara berurut-urut adalah 40 persen, 30 persen dan 20 persen (Risfaheri et al., 1993).

L.       Katekin dalam Teh
Teh telah dikenal sebagai pangan fungsional untuk memperlambat proses penuaan. Teh terbuat dari daun Camelia sinensis (tumbuhan perdu). Di dalamnya terkandung campuran berbagai antioksidan yang larut dalam air panas ketika kita menyeduhnya. Antioksidan popular yang terdapat dalam teh adalah katekin.. Teh hitam, teh hijau, maupun jenis-jenis teh lainnya dapat membuka peluang kita untuk mencapai usia panjang dan selalu sehat wal afiat. Kandungan katekin dalam teh hijau adalah 375 mg per cangkir dan teh hitam 210 mg. Bandingkan dengan katekin anggur merah yang 300 mg. Selama ini telah dibuktikan bahwa minum anggur merah akan berkhasiat melawan proses penuaan. Namun melihat fakta bahwa teh pun ternyata banyak mengandung katekin, maka kita bisa tetap awet muda dan panjang usia dengan mengonsumsi teh tanpa harus mabuk alkohol akibat minum anggur.
Kandungan ketekin yang tinggi pada teh hijau tidak berarti bahwa teh hitam menjadi kurang berkhasiat. Bukti-bukti menunjukkan bahwa teh hitam mengandung antioksidan lain sehingga manfaatnya menjadi setara dengan teh hijau. Kemanjuran katekin untuk melawan radikal bebas bukan saja akan menghambat laju penuaan tetapi juga akan membuat kita hidup lebih lama. Studi di Norwegia menunjukkan bahwa angka kematian lebih rendah pada mereka yang rajin minum teh secangkir sehari. Penelitian di Belanda menghasilkan kesimpulan yang sama yaitu bahwa minum teh setiap hari akan menurunkan risiko kematian yang disebabkan oleh apapun dan terutama karena penyakit jantung (Puspita, 2003).











II.      PEMBAHASAN
A. Katekin sebagai Senyawa Fungsional dalam Teh
Teh dikenal memiliki banyak manfaat, diantaranya mengandung antioksidan yang memiliki sifat menetralisir radikal bebas, sehingga teh bermanfaat mencegah terjadinya kanker. Menurut Artanti dkk (1999), teh mengandung senyawa antioksidan yang berbeda-beda sehingga sifat penangkapannya dengan radikal bebas pun berbeda-beda.
Contoh kasus penangkapan radikal bebas DPPH oleh antioksidan dalam teh.

Gambar 2. Reaksi pengkapan radikal bebas DPPH oleh antioksidan
Sifat karsinogenik dari poliaromatik hidrokarbon (PAH) mungkin disebabkan  oleh terbentuknya radikal-radikal bebas kation PAH. Antioksidan dilaporkan memiliki kemampuan antimutagen karena dapat menangkap radikal bebas atau menginduksi enzim-enzim antioksidatif. Teh hijau memiliki aktivitas antioksidan sekitar 1,1 sampai 3,4 kali lebih tinggi dibanding teh hitam dan teh melati, oleh karena itu, teh hijau mengandung katekin jauh lebih banyak dibanding dari teh hitam (Artanti dkk, 1999).
                             
Gambar 3. Struktur kimia antioksidan yang diisolasi dari teh (epigalokatekin galat dan katekin).
Berbagai penelitian tentang katekin sebagai antioksidan pada teh telah dilakukan antara lain adanya minuman fungsional teh-mengkudu. pada penelitian ini kandungan total polifenol dan aktivitas antioksidan minuman ringan fungsional teh mengkudu menunjukkan kecenderungan yang semakin menurun dengan semakin bertambahnya ekstrak mengkudu dan kayu manis (Sari dkk, 2003). Selain itu, ada penelitian tentang minuman fungsional berbahan dasar teh dan kayu manis untuk penderita diabetes militus.
Dalam penelitian ini katekin dioksidasi menjadi theflavin dan thearubigin yang memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan katekin asalnya (Leung et al, 2001). Aktivitas yang antioksidan yang dimiliki teh hitam adalah kemampuannya dalam menghambat pembentukan radikal bebas, menangkap radikal bebas dan menghelat ion logam transisi. Theaflavin teh hitam dapat mendorong aktivasi dari faktor transkripsi, meghambat enzim ptooksidatif seperti xantin oksidase dan nitrit iksidase sintase (luczaj et al, 2004). Aktivitas antioksidan dalam seduhan teh-kayu manis-gum arab diduga dapat megurangi oksidasi yang terjadi pada pankreas. Oksidasi pada pankreas menyebabkan insulin yang dihasikan tidak maksimal dan hal tersebut menyebabkan glukosa darah tidak dapat memasuki sel sehingga glukosa darah tinggi. Dengan meminum teh-kayu manis ini oksidasi menurun dan glukosa darah menjadi turun (Abbas et al, 2006).
Minuman kesehatan teh Camellia-Murbei juga diteliti. ketersediaan daun murbei ini menjadi potensi untuk diolah menjadi minuman fungsional yang dipadu dengan daun teh, karena daun murbei memiliki kandungan bahan aktif berupa 1-deoxynojirimycin yang bermanfaat bagi penderita diabetes mellitus. Gabungan antara daun teh (Camellia sinensis) dengan daun murbei (Morus sp) menghasilkan minuman yang dinamakan teh camellia-murbei. Hasil analisis fitokimia menunjukkan bahwa teh camellia-murbei yang memiliki kandungan fitokimia yang tertinggi adalah formula Klon gambung 9 non-oksimatis dengan Kanva non-oksimatis dengan kadar total katekin sebesar 3.91% bk (Dainy, 2009).

B. Katekin sebagai Senyawa Fungsional dalam Gambir
Gambir banyak mengandung bahan kimia antara lain katekin. Katechin bermanfaat bagi tubuh antara lain untuk menetralisir nikotin yang terdapat dalam tubuh, khususnya bagi para perokok. Gambir terdapat beberapa komponen kimia antara antara lain: catechin, asam catechu tannat, quarsetin, catechu merah, gambir fluoresin, abu, lemak dan lilin. Kandungan utama adalah catechin (7-33%) dan asam catechu tannat (20-25%) yang manfaat dan  telah teridentifikasi antara lain memiliki daya astringensi (kemampuan untuk bereaksi dan berikatan dengan protein pada mucus dan sel epitel mukosa), anribakteri, anti-oksidan, memunyai sifat-sifat farmakologis atau mengobati pengaruh bahan-bahan kimia yang merugikan.
            Katekin dari tanaman gambir merupakan dextro rotary catechin (d-katekin), sedangkan yang berasal dari Indian cuth merupakan levo rotary catechin (l-katekin). Dextro (d) adalah apabila gugus –OH berputar mengarah ke kanan.  Dan sebaliknya Levo (l) apabila gugus –OH berputar mengarah ke kiri.  Secara umum, katekin mempunyai enam stereoisomer yaitu, dl-katekin, dl-epikatekin, l-katekin, d-katekin, l-epikatekin,dan d-epikatekin (Neirenstein, 1943).
Penelitian tentang gambir gencar dilakukan sekarang karena Katekin yang terkandung dalam gambir sangat tinggi berkisar antara 20-40 %.  Katekin dari gambir banyak dimanfaatkan untuk kesehatan dan pangan. Contohnya pembuatan serbuk instan gambir sebagai obat kumur (Lucida et al, 2007). Serbuk gambir dibuat dalam bentuk effervescent yang dapat melepaskan CO2 didalam air. Terbentuknya gas menyebabkan terlepas dan larutnya katekin didalam air. Penambahan mannitol dapat memberikan efek pencegah plak gigi. Gambir juga dimanfaatkan sebagai tambahan formulasi permen Hard Candy. Permen ini bermanfaat untuk mencegah plak gigi, meningkatkan nilai jual gambir dan mencegah radikal bebas masuk kedalam tubuh.




























IV. KESIMPULAN
Berdasarkan literatur yang diperoleh dapat disimpulkan antaralain:
1.            Pangan fungsional merupakan pangan alami (sebagai contoh, buah-buahan dan sayur-sayuran) atau pangan olahan yang mengandung komponen bioaktif sehingga dapat memberikan dampak positif pada fungsi metabolisme manusia.
2.            Katekin adalah senyawa polifenol alami, merupakan metabolit sekunder dan termasuk dalam penyusun golongan tanin. Katekin bersifat sebagai antimikroba, memperkuat pembuluh darah, melancarkan air seni dan menghambat pertumbuhan sel kanker
3.            Ekstrak katekin dapat mengurangi spora Clostridium botulinum dan spora Clostridium butyricum, tetapi tidak memberikan efek terhadap spora Bacillus cereus.  Sifat antibakteri katekin juga dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans, Staphylococcus aureus dan Bacillus subtilis, akan tetapi sifat antibakteri katekin tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan Eschericia coli, Salmonella typhimurium FNCC 0139, dan Shigella flexneri.
4.            Antioksidan (katekin) dilaporkan memiliki kemampuan antimutagen karena dapat menangkap radikal bebas atau menginduksi enzim-enzim antioksidatif. Aktivitas antioksidan (katekin) dalam seduhan teh-kayu manis-gum arab diduga dapat megurangi oksidasi yang terjadi pada pankreas sehingga dapat mengobati penyakit diabetes militus.
5.            Katekin dalam gambir dapat dimanfaatkan sebagai obat kumur dan bahan fungsional dalam permen.







DAFTAR PUSTAKA
Abbas, A. Mahmudatussaadah, A. 2006. Minuman Fungsional Berbahan Dasar Teh dan Kayu Manis Untuk Penderita Diabetes. 979: 3688-599.

Anonim, 2010. Pangan fungsional. (Online). (http://id.wikipedia.org/wiki/Pangan_fungsional. Diakses pada tanggal 17 September 2010).


Ansar, Budi Rahardjo, Zuheid Noor dan Rochmadi. 2006. Pengaruh temperatur dan kelembaban udara terhadap kelarutan tablet effervescent. Majalah Farmasi Indonesia, 17(2), 63 – 68.

Arunachalam, M., Mohan, R.M., Mohan, N., Mahadevan, A. 2003. Biodegradation of Catechin. (Online). (http://www.new.dli.ernet.in/rawdataupload/upload/ins aINSA_1/2008a2f_353.pdf. Diakses pada tanggal 17 September 2010).

Artanti, N., dan Hanafi, M. 1999. Aktivita Antioksidan Sejumlah Teh Yang Ada di Pasarn. Pusat Penelitian Kimia. Serpong.

Dainy, N. C., 2009. Uji Toksisitas Senyawa Total Katekin Teh-Camelllia-Murbei sebagai Minuman Kesehatan. IPB. Bogor.

Djanun, L.N. C. 1998. peluang ekspor gambir di pasar Internasional. BPEN. Depperindak Jakarta.

Hayani, E. 2003. Analisis Kadar Catechin dari Gambir Dengan Berbagai Metode. Buletin Teknik Pertanian. 8 (1), 31-33.Hegar, B. 2007. Mikroflora Saluran Cerna Pada Kesehatan Anak. (Online).(http://www.dexamedica.com/images/publication_upload07052478913500179978960Dexa%20Media%202007;20(1)%20Jan-Mar.pdf. Diakses pada tanggal 17 September 2003).

Leung, L.K., Y. Su, R. Chen, Z. Zhang, Y. Huang dan Z. Y. Zhen. Theaflavin in Black tea and Cathechins in Green Tea are Equally Effective Antioksidant. J Nutr. 131:2248-2251.

Lucida, H., Amri B., dan Wina A.P. 2007. Formulasi Sediaan Antiseptik Mulut dari Katekin Gambir. J. Sains Tek. Far, 12(1).

Luczaj, W., E. Skrzydlewska. 2004. Antioxidant Propertiesof Black Tea in Alcohol Intoxication. Food and Chemical Toxicology. 42: 2045-2051.
Mujahidin, 2009. Pengembangan Makanan Fungsional. (Online). (http://smarters06.blogspot.com/2009/01/pengembangan-pangan-fungsional.html. Diakses pada tanggal 17 September 2010).

Naczk, M., T. Nichols, D. Pink, and F. Sosulski. 1994. Condensed Tannin in Canola Hulls. J.Agric. Food Chem. 42: 2196-2200.

Neirenstein, M. 1943. The Natural Organics Tannins. J. A. Churchill. London.

Pambayun, R., Gardjito, M., Sudarmadji, S. dan Rahayu, K. K. 2007. Kandungan Fenol dan Sifat Antibakteri dari Berbagai Jenis Ekstrak Produk Gambir (Uncaria gambir Roxb). Majalah Farmasi Indonesia 18 (3) Hal 141-146.

Puspita. 2003. Evaluasi Kandungan Total Polifenol dan Aktifitas Antioksidan Minuman Ringan Fungsional Teh-Mengkudu Pada Berbagai Formulasi. (Online). (http:// mediapangan/23987/kandunganteh-mengkuduminumanfungsional/65%87965.pdf. Diakses pada tanggal 17 September 2010).

Sari, P., Unus, Djumarti, dan Handayani. 2003. Evaluasi Kandungan Total Polifenol Dan Aktifitas Antioksidan Minuman Ringan Fungsional Teh-Mengkudu Pada Berbagai Formulasi. Universitas jember. Jember.


Styleshout. 2010. Pangan Fungsional dan Dampak Terhadap Kesehatan. (Online). (http://www.kamusilmiah.com/situshijau/mediapertanian/pangan/pangan-fungsional-terhadap-kesehatan/. Diakses pada tanggal 17 September 2010).

Yukiko, Yamasaki, A., Sasaki, M. and Okubo, T.. 2005. Antibacterial Action On Pathogenic Bacterial Spore By Green Tea Catechins. (Online). (http://www.ingentaconnect.com/content/jws/jsfa/2005/00000085/00000014/art00005;jsessionid=65je04o0reeat.alexandra. Diakses pada tanggal 17 September 2010).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar