Laman

Rabu, 22 September 2010

“ANGKA KECUKUPAN PROTEIN

OLEH :
MISNANI
05071007020
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

INDRALAYA
2009

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Protein adalah suatu senyawa organik yang mempunyai berat molekul besar antara ribuan hingga jutaan satuan(g/mol). Protein tersusun dari atom-atom C,H,O dan N ditambah beberapa unsur lainnya seperti P dan S. Atom-atom itu membentuk unit-unit asam amino. Urutan asam amino dalam protein maupun hubungan antara asam amino satu dengan yang lain, menentukan sifat biologis suatu protein(Girinda, 1990).
Protein adalah sumber asam amino yang mengandung unsur C,H,O dan N yang tidak dimiliki oleh lemak dan karbohidrat. Molekul protein mengandung gula terpor belerang, dan ada jenis protein yang mengandung unsur logam seperti besi dan tembaga (Winarno, 1997).
Protein terdiri dari bermacam-macam golongan makromolekul heterogen. Walaupun demikian semuanya merupakan turunan dari polipeptida dengan berat molekul yang tinggi, secara kimia dapat dibedakan antara protein sederhana yang terdiri dari polipeptida dengan berat molekkul yang tinggi. Secara kimia dapat dibedakan antara protein sederhana yang terdiri dari polipeptida dan protein kompleks yang mengandung zat-zat makanan tambahan seperti hern, karbohidrat, lipid atau asam nukleat. Untuk protein kompleks, bagian polipeptida dinamakan aproprotein dan keseluruhannya dinamakan haloprotein. Secara fungsional protein juga menunjukkan banyak perbedaan. Dalam sel mereka berfungsi sebagai enzim, bahan bangunan, pelumas dan molekul pengemban. Tapi sebenarnya protein merupakan polimer alam yang tersusun dari berbagai asam amino melalui ikatan peptida (Hart, 1987).
Protein digunakan oleh tubuh sebagai zat pembangun atau pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh seperti pengatur serta mempertahankan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. Selain itu, protein juga sebagai cadangan energi jika karbohidrat dan lemak sudah habis. Karena adanya fungsi inilah penentuan kecukupan protein dilakukan pada saat kecukupan energi terpenuhi.
Protein dikatakan sebagai zat pembangun atau pertumbuhan karena protein merupakan baha pembentuk jaringan baru dalam tubuh terutama pada bayi, anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui dan orang yang baru sembuh dari sakit. Protein juga dikatakan sebagai zat pengatur karena protein merupakan pembentuk enzim dan hormon yang berperan sebagai pengatur dalam metabolisme tubuh. Sedangkan fungsi protein sebagai pertahanan tubuh dari serangga dan penyakit tertentu karena protein merupakan pembentuk anti bodi (Hardiansyah, et al. 1989).
Kebutuhan protein menurut FAO/WHO/UNU (1985) adalah konsumsi yang diperlukan untuk mencegah kehilangan protein tubuh dan memungkinkan produksi protein yang diperlukan dalam masa pertumbuhan, kehamilan atau menyusui.
Bahan makanan hewani merupakan sumber protein yang baik, dalam jumlah maupun mutu seperti telur, susu, daging, unggas, kerang dan ikan. Sumber protein nabati adalah kacang kedelai dan hasilnya seperti tempe dan tahu serta kacang-kacangan lain. Kacang kedelai merupakan sumber protein nabati yang baik karena memiliki mutu atau nilai biologis tertinggi.
Kekurangan protein banyak terdapat pada masyarakat sosial ekonomi rendah. Kekurangan protein pada stadium berat menyebebkan kwashiorkor pada anak-anak balita. Kekurangan protein sering ditemukan secara bersamaan dengan kekuranagn energi yang menyebabkan kekurangan energi yang menyebabkan kondisi maarsmus. Sindroma gabungan dinamakan kurang energi protein (KEP).
Kelebihan protein tidak menguntungkan tubuh. Makanan yang tinggi protein biasanya tinggi lemak sehingga menyebabkan obesitas. Kelebihan protein bermasalah bagi bayi. Kelebiahan asam amino memberatkan ginjal dan hati yang harus memetabolisme dan mengeluarkan kelebihan nitrogen. Kelebihan protein akan menimbulkan asidosis, dehidrasi, diare, kenaikan amonia darah, kenaikan ureum darah dan demam (Almatsier, 2004).
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui angka kecukupan protein

II. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ilmu gizi dilaksanakan di ruang kuliah 1207 pada hari Jum’at 06 November 2009 pada pukul 13.00 sampai dengan selesai.
B. Bahan
Bahan yang digunakan yaitu 1) kertas, 2) pena, 3) penggaris, 4) pensil dan 5) tipe-X.
C. Cara Kerja
Cara kerja pada praktikum ini adalah :
1. praktikan dijelaskan materi tentang protein dan perhitungan angka kecukupan protein yaitu AKP dan Standar AKP
2. Praktikan dibagi menjadi beberapa kelompok yang setiap kelompok terdiri dari 4 orang mahasiswa
3. Masing-masing praktikan diberi angka SAA dan DP
4. Setiap kelompok menghitung Angka Kecukupan Protein dan standar Kecukupan Protein dari masing-masing anggota kelompoknya.
5. Perhitungan masing-masing praktikan dikumpul per kelompok dan dibahas oleh masing-masing kelompok.


III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 1. Tabel AKP dan Standar AKP mahasiswa THP
No Sampel SAA DP BB(kg) AKP(gr/hari) Sandar AKP(gr/hari)Selisih AKP dan standar
1 A 93 89 60 57,99 45 12,99
2 B 97 86 56 50,34 42 8,38
3 C 99 87 46 40,05 34,5 5,55
4 D 100 88 55 46,87 41,25 5,62


B. Pembahasan
Praktikum ini ketiga ini adalah tentang Angka Kecukupan Protein. Angka kecukupan protein (AKP) orang dewasa menurut hasil-hasil penelitian keseimbangan nitrogen adalah 0,75 gram/kg berat badan, berupa protein patokan tinggi yaitu protein telur (mutu cerna/digestibility dan daya manfaat/utility telur adalah 100). Angka ini dinamakan safe level of intake atau taraf suapan terjamin.
Kebutuhan asam amino dan protein dapat ditentukan melalui tiga cara. Bayi baru lahir hingga umur 4-6 bulan jumlah protein dan asam amino didalam air susu ibu. Asi berasal sari ibu yang sehat dan gizi ibu yang baik sehingga memungkinkan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal. Anak-anak digunakan metode faktorial yaitu dengan menghitung kebutuhan untuk pemeliharaan tubuh dengan cara keseimbangan nitrogen ditambah perkiraan kebutuhan untuk pertumbuhan. Orang dewasa menggunakan keseimbangan nitrogen, diukur pada beberapa tahap konsumsi. Jumlah protein dari analisis nitrogen diperoleh dengan mengalikan angka analisis nitrogen dengan 100/16 atau 6,25 karena protein rata-rata mengandung 16% nitrogen.
Angka kecukupan protein dipengaruhi oleh mutu protein hidangan yang dinyatakan dalam Skor Asam Amino(SAA), Daya cerna Protein (DP) dan Berat Badan (BB) seseorang. Mutu protein ditentukan oleh jenis dan proporsi asam amino yang dikandungnya. Protein yang bermutu baik adalah protein yang mengandung semua jenis asam amino essensial dalam proporsi yang sesuai untuk keperluan pertumbuhan.
Mutu protein dapat ditentukan dengan berbagai cara antara lain:
1. Nilai Biologik
Nilai biologik makanan adalah jumlah nitrogen yang ditahan tubuh guna pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh yang berasal dari nitrogen yang diabsorpsi.
2. Net Protein Utilization (NPU)
Net Protein Utilization (NPU) adalah indeks mutu yang tidak saja memperhatikan jumlah protein yang ditahan, akan tetapi juga jumlah yang dicernakan.
3. Protein Efficiency Ratio (PER)
Protein Efficiency Ratio (PER) adalah yang plaing sederhana. PER merupakan pengukuran mutu protein makanan yang ditetapkan oleh kemampuan protein bersangkutan untuk menghasilkan pertumbuhan.
4. Skor Kimia/Skor Asam Amino
Skor Kimia/Skor Asam Amino adalah cara menetapkan mutu protein dengan membandingkan kandungan asam amino essensial dalam bahan makanan dengan kandungan asam amino essensial yang sama dalam protein (Almatsier,
Berdasarkan praktikum dan perhitungan yang diperoleh dari empat mahasiswa, setiap mahasiswa mempunyai angka kecukupan protein yang berbeda-beda. Berdasarkan umur, semakin meningkat usia remaja semakin menurun kecukupan protein (Hardiansyah et al, 1989), hal ini sesuai dengan hasil yang didapatkan terbukti bahwa AKP Dennys yang berusia 19 tahun lebih tinggi dari Hartanto yang berusia 22 tahun dan AKP Karimah yang berusia 20 tahun lebih tinggi dari Misnani yang berusia 21 tahun.
Berdasarkan jenis kelamin, umumnya kecukupan protein pria lebih tinggi dari wanita (Hardiansyah et al, 1989). Hal ini sesuai dengan praktikum yang telah dilakukan, Dennys (pria) lebih tinggi AKP nya dari Karima (wanita) demikian juga Hartanto (pria) kecukupan proteinnya lebih tinggi dari Misnani(wanita).
Berdasarkan tabel yang diperoleh, semakin besar berat badan seseorang, maka angka kecukupan proteinnya dan standar proteinnya semakin tinggi. Hal ini tidak sesuai dengan tabel angka kecukupan protein yang menyatakan bahwa semakin meningkat umur, maka berat badan juga semakin meningkat. Selain itu, berat badan juga dipengaruhi oleh tinggi badan, semakin tinggi badan seseorang, maka berat badannya juga meningkat.

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Angka kecukupan protein dipengaruhi oleh mutu protein hidangan yang dinyatakan dalam Skor Asam Amino(SAA), Daya cerna Protein (DP) dan Berat Badan (BB) seseorang.
2. Mutu protein ditentukan oleh jenis dan proporsi asam amino yang dikandungnya.
3. Berdasarkan umur, semakin meningkat usia remaja semakin menurun kecukupan protein
4. Berdasarkan jenis kelamin, umumnya kecukupan protein pria lebih tinggi dari wanita
5. Semakin besar berat badan seseorang, maka angka kecukupan proteinnya dan standar proteinnya semakin tinggi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar